Entah bagaimana mulanya, tapi suatu hari seorang Office Boy di kantor saya curhat. “ Mba Ade, kalau ada peluang kerjaan ditempat lain yang lebih bagus, kasih tau saya ya?” “Yang lebih bagus maksudnya gimana nih? “ Tanya saya . “Pengennya sih yang sesuai dengan background saya, tapi driver juga nggak apa-apalah.. saya udah nyoba-nyoba juga ditempat laen, tapi ga lolos. Nyari-nyari di internet nggak ada yang kepanggil” ”Lho, emang backgroundnya mas Adi apa?” Sampai sini saya melihat tiba-tiba mas Adi ragu untuk bercerita. Yang ada dia malu-malu nggak jelas , dan dengan logat betawinya yang super kental akhirnya dia melanjutkan ceritanya.
” Saya sebenernya lulusan ekonomi mba..tadinya saya masuk sini karena ditawarin jadi driver, tapi abis itu lama-lama posisi driver di holding berlebihan, jadi saya diperbantukan dianak perusahaan ini, tempat mba kerja sekarang ini ..”
Sekarang saya yang bengong. Saya mengamati dengan seksama orang dihadapan saya. Mas Adi adalah seorang OB disebuah kantor tempat saya bergabung beberapa waktu lalu. Orangnya ramah dan selalu ceria. Rajin sekali mengomentari setiap headline di koran dan perkembangan politik setiap hari dengan komentar yang nyeleneh, lucu, dan polos. Sekilas kepolosan yang ditampilkan memang terdengar seperti orang asal ngomong, tapi sambil lalu saya sering mengamati komentar dan analisisnya itu berdasarkan sebuah sekumpulan pengetahuan yang kebenarannya mendekati akurat.
Setiap pagi dia yang bertugas membuka pintu kantor, mengurus kebersihan kantor, menyiapkan minum dimeja setiap orang, menjadi messenger untuk setiap urusan dengan kantor pusat atau unit lainnya, menyiapkan makan siang untuk para atasan saya, menyiapkan jamuan untuk tamu-tamu yang datang, mencuci piring dan gelas kotor sebelumpulang kantor , mematikan semua alat elektronik dan listrik sebelum pulang kantor, mengunci kantor kembali dan datang keesokan harinya dengan tugas rutinnya serta tugas tambahan lainnya yang mungkin remeh temeh tapi dia adalah orang andalannya.
Dan, ternyata siapa sangka orang dihadapan saya ternyata adalah lulusan S1 fakultas Ekonomi dari sebuah universitas swasta di pelosok jakarta. Sarjana .. ya dia sarjana sama seperti saya dan hampir semua teman kantor saya lainnya. Lalu muncul sebuah pertanyaan yang terus menggelayuti kepala saya setiap kali bertemu dengannya. Bagaimana dia kemudian memutuskan apa yang dijalaninya sekarang ini ? akal saya masih tidak menerima kenyataan yang terbentang didepan mata saya. Rasa ingin tahu saya sepertinya membludak begitu besar, ingin mengetahui motif mas Adi bertahan selama 3 tahun dipekerjaan ini. Sepertinya ini adalah sifat warisan pekerjaan saya terdahulu sebagai reporter yang pulang harus membawa berita. Dan jadilah setiap ada kesempatan ngobrol, saya selalu berusaha mengulik dan ’investigasi’ kecil-kecilan.
Dan hasilnya, ternyata mas Adi ini pernah menjadi guru madrasah di sebuah yayasan selama 2 tahun. Dia menyenangi pekerjaannya itu, tapi gajinya disana sangat tidak mencukupi ketika dia sudah mulai berkeluarga. Selama ini dia sudah mencoba bertahan dengan berbagai cara. Mengikuti idealismenya dia yang pada akhirnya terkalahkan oleh realitas kehidupan. Mau tau gajinya berapa selama disana? 200 Ribu rupiah!.Saya menjerit mendengar cerita itu, miris saya membayangkan bagaimana sulitnya hidup dikota Jakarta yang serba mahal ini dengan uang sebesar itu.
Dan disinilah dia memasrahkan dirinya untuk bertahan hidup dan menghidupi keluarganya. Dari ceritanya, dia juga sudah berusaha kesana kemari, bahkan juga memperjuangkan dirinya untuk bisa ditempatkan di posisi yang lebih baik di perusahaan ini. Tapi saya mengamati, ada sebuah informasi yang terputus , antara mas Adi – bapak X (orang yang membawanya kerja disini) – HRD. Sepertinya bapak X tidak memberikan informasi yang lengkap tentang latar belakang mas Adi ini ke pihak HRD. Sehingga mungkin hal ini tidak menjadi perhatian khusus.
Entah kenapa cerita mas Adi ini terus mengganggu pikiran saya. Ketika saya tanyakan apa yang saya yang bisa saya bantu untuknya? Dia menjawab informasi!. Informasi peluang kerja , kalau-kalau saya tahu ada pekerjaan yang lebih baik dari saat ini. Ia juga bercerita suka browsing di internet kalau ada komputer nganggur tidak ber’password’ yang masih menyala.
Tapi cukupkah informasi? Rasanya tidak. Proses informasi berjalan hingga menciptakan sebuah kesempatan itu panjang. Rasaya informasi harus berkolaborasi dengan banyak hal, kemampuan intelektual, kecakapan emosi, keahlian khusus lainnya yang dimiliki, bahkan mungkin jejaring yang ia miliki , atau hal lainnya yang tidak disebutkan disini. Sampai sini saya belum bisa menyimpulkan banyak. Yang pasti, ternyata diluar sana banyak juga saya dengar ’Adi-Adi’ lainnya yang bahkan lulusan sarjana tapi tidak berhasil mendapatkan pekerjaan yang layak. Saya tahu, pasti ada yang salah. Hanya saya rasanya saat ini bukan kapasitas saya untuk mengurai lebih lanjut rantai yang terputus ini. Mas Adi sendiri merasa ia berasal dari kampus kecil yang tidak terkenal dan sulit bersaing dengan nama besar kampus lainnya. Dulu saya pernah membantah akan hal ini, tapi setelah didunia kerja, harus saya akui, nama universitas menjadi sebuah faktor pertimbangan yang punya nilai besar dalam sebuah proses awal seleksi. Faktor lainnya, jurusan, keahlian, pengalaman, dan setelah itu barulah penilaian kepribadian secara keseluruhan dan dipertegas dengan rangkain tes lainnya sebagai ciri khas sebuah rekrutmen.
Tiba-tiba saya teringat pesan yang selalu ingin saya sampaikan ketika ada kesempatan berbicara di depan teman-teman mahasiswa, bahwa kuliah itu bukan hanya butuh selembar ijazah, tapi juga soft skill. Kemampuan yang sungguh akan sangat membantu menaikkan nilai seorang lulusan universitas ketika ia melangkah keluar kampus.
Yang jelas, dari cerita ini saya semakin memahami betapa besarnya peran pilihan dan kesempatan. Dalam hidup kita selalu dihadapkan pada pilihan untuk memutuskan. Keputusan itu kemudian yang akan membawa kita kepada banyak kesempatan lainnya yang terbentang. Hanya mungkin, kesempatan untuk memilih tidak datang dengan mudahnya kepada setiap orang. Kerapkali saya mendengar orang pasrah dengan berkata , ”nggak ada pilihan lagi ..”
Disisi lain, saya juga sering melihat keadaan dimana orang sangat susah untuk memilih satu dari sekian banyak pilihan yang ada. Mungkin mas Adi ini adalah orang yang berada pada posisi pertama. Dan berarti yang harus dilakukan adalah mempertemukannya dengan kesempatan yang membuatnya bisa memilih yang terbaik dari yang baik. Semoga kesabarannya membawa langkahnya untuk mempertemukan dengan kesempatan yang lebih baik itu ..
***
 | banyak orang yang senasib, over qualified for a job tetapi ga punya pilihan lain untuk bertahan hidup, OB di kantor saya juga ciamsor (ciamok soro) dia harusnya jd staf bukan OB walopun pendidikannya cuman D1 tp haibat lah.. |
 | kita menghadapi kenyataan yang sama.. babysitterku lulusan kuliah (ga tau D3 atau S1), harusnya dia bisa dapat kerjaan yang lebih baik. sayang hidup tidak menawarkan banyak pilihan :( |
 | jadi inget, dulu waktu masih jadi karyawan salah satu sopir di kantorku ternyata sarjana hukum.. hidup memang kadang nggak adil untuk sebagian orang.. tapi mungkin juga dia cuma belum menemukan kesempatan untuk bekerja di tempat yang lebih baik... |
 | catatan yang menyentuh, mba'. sedih banget bacanya,... apa boleh copy paste (copas)? |
| |